Tuesday, September 10, 2013

Riddick; it's Pitch Black all over again!



If you love action sci-fi Pitch Black (2000), you'll love this one! Sutradara David Twohy kembali untuk ketiga kalinya membawa kita melihat petualangan Richard B. Riddick yang diperankan Vin Diesel yang merangkap sebagai produser di film yang kali ini diberi titel (hanya) Riddick. Settingnya lima tahun setelah kisah The Chrocicles of Riddick (yang rilis tahun 2004), ketika Riddick dikhianati oleh Commander Vaako (Karl Urban) yang menjanjikan dirinya pulang ke planet Furya. Alih-alih tiba di planet Furya, Riddick malah ditelantarkan disebuah planet terasing oleh Krone (Andreas Apergis) kaki tangan Vaako. Di planet ini ia mencoba bertahan hidup sendiri, terutama dari serangan makhluk-makhluk ganas yang mendiami planet ini lebih dulu. Sadisnya makhluk-makhluk ini membuat Riddick merasa harus segera meninggalkan planet tersebut, kebetulan ada sebuah stasiun pemancar yang bisa mengirimkan sinyal darurat, konsekwensinya adalah ia akan diburu oleh para pemburu hadiah (bounty hunter) yang rela membunuh Riddick demi uang imbalannya. Dua buah pesawat bounty hunter mendarat memenuhi panggilan darurat yang dikirim Riddick, satu team dipimpin Santana (Jordi Molla) yang congkak dan team lainnya di pimpin Johns (Matt Nable) yang well organize. Awalnya mereka berseteru untuk mendapatkan Riddick namun akhirnya mereka saling bekerjasama, karena sebenarnya bukan Riddick yang harus mereka khawatirkan, melainkan makhluk-makhluk penghuni planet ini yang datang saat hujan badai dengan jumlah ratusan. Kisah film ini merupakan sambungan langsung dari film The Chronicles of Riddick tapi benang merahnya terkait erat dengan film pertamanya, Pitch Black. David Twohy mengambil keputusan yang cerdas dengan menulis cerita Riddick yang mengambil konsep cerita mirip dengan film pertama yang sukses besar serta melambungkan nama Vin Diesel. Iapun dengan leluasa mendalami karakter Riddick dari sisi emisonal yang tidak pernah tergali dari dua film sebelumnya (kemarahan, kesepian, ketegaran dan ketakutan), hal ini digambarkan di sepertiga pertama film yang memperlihatkan cara Riddick bertahan hidup dan Vin Diesel membawakannya dengan sangat apik. Performance para pemain pendukungnya juga enak dilihat, sesuai dengan karakter yang diinginkan. Yang perlu diacungi jempol adalah sinematografi dan visual efeknya. David Eggby berhasil menampilkan pemandangan planet yang tandus dan seram tapi indah (apalgi klo disaksikan dilayar IMAX), FYI ajah lokasi syutingnya dilakukan di gurun daerah Farafra Mesir. Sebenarnya gosip tentang film Riddick sudah beredar sejak tahun 2006 namun baru tahun 2012 bisa dilaksanakan syutingnya karena menunggu kesiapan Diesel dan Twohy serta pematangan skrip yang dibuat Twohy yang awalnya diberi rating PG-13 (Remaja) dirubah menjadi Rating R (dewasa) sama dengan film Pitch Black. Saya pribadi senang dengan kembalinya Riddick ke layar lebar, bagaimana dengan Anda?

It scores 8 outta 10!

Sunday, September 8, 2013

The Internship; dinosaur men vs digital kids



Film komedi The Internship karya sutradara Shawn Levy menceritakan tentang duo salesman handal Billy McMahon (Vince Vaughn) dan Nick Campbell (Owen Wilson). Mereka terpukul saat tahu bahwa jam tangan yang mereka jual sudah tidak diproduksi lagi dan perusahaannya gulung tikar sehingga bos mereka, Sammy (John Goodman) memecat mereka. Sekarang siapa sih yang pake jam tangan? Di jaman digital ini kalo orang tau jam berapa sekarang tinggal lihat ke handphone mereka. Dengan galau mereka mencoba mencari pekerjaan lain meskipun gak mudah karena yang mereka kuasai hanya ilmu menjual barang. Billy mencoba mengirimkan aplikasi ke perusahaan Google dengan harapan bisa diterima disana karena dikantornya mereka bisa memberikan makan gratis, ada 'nap pod' yang bisa digunakan untuk tidur dan perosotan besar yang menyenangkan. Google adalah salah satu perusahaan raksasa yang kini sedang berjaya dan tidak gampang bisa menjadi bagian dari perusahaan tersebut. Billy dan Nick mengikuti program Internship (kalo di Indonesia disebut Magang) dan bila mereka lulus maka mereka bisa diterima sebagai karyawan Google. Mereka berdua harus bersaing dengan anak-anak muda yang jauh lebih cerdas di bidang teknologi terkini, sedangkan Billy dan Nick termasuk dinosaurus yang gak ngerti apa-apa tentang teknologi. Teman-teman satu team mereka bahkan ikut mengolok-olok mereka berdua yang ketinggalan jaman, namun keteguhan dan tekad bulat Billy dan Nick akan membuat anak-anak muda ini berfikir dua kali untuk bisa mengalahkan mereka. Jujur saja, film ini bisa disebut sebuah iklan dengan durasi 100 menit lebih. Iklan apa? Ya iklan GOOGLE! Tapi mari kita kesampingkan hal itu sementara. Film ini termasuk film komedi yang efektif, banyak momen lucu yang bisa membuat kita tertawa dan ada momen untuk merenung dan mendapatkan insight dari cerita kisah komedi ini. 15 menit pertama mungkin agak membosankan, namun adegan interview via webcam di perpustakaan menjadi titik tolak kelucuan-kelucuan berikutnya yang cukup seru. Sebagian penonton senior akan merasa terwakili dengan karakter duo Billy dan Nick yang besar di tahun 80an (film Flashdance jadi referensi yang cukup lucu) sedangkan penonton muda yang gila gadget dan teknologi jelas akan mengerti apa yang dibicarakan para Googlers. Chemistry dua komedian Vaughn dan Wilson sangat pas sehingga penampilan mereka sepanjang film sangat menghibur, mengingatkan saya pada film Wedding Crasher yang juga dibintangi mereka berdua. Begitu juga dengan para pemain pendukungnya yang bermain dengan apik terutama Aasif Mandvi yang memerankan Mr. Chetty dengan bengis. Endingnya memang sudah bisa ditebak tapi tapi kisahnya menarik untuk diikuti dari awal hingga akhir.



It scores 6 outta 10!

R.I.P.D.; like a bad combination of Ghostbusters & MIB



Detektif Nick Walker (Ryan Reynolds) dan Bobby Hayes (Kevin Bacon) adalah pasangan polisi di Boston yang menyimpan sebongkah emas secara diam-diam, mereka mendapatkannya dari penggerebekan gembong narkotika. Walker yang merasa bersalah ingin mengirimkan emas tersebut ke tempat penyimpanan bukti di kantor polisi, namun Hayes yang tidak setuju malah membunuh Walker saat melaksanakan tugas. Walker yang tewas bertemu dengan Mildred Proctor (Mary Louise-Parker) dan diberi kesempatan untuk kembali ke dunia demi menjalankan tugas dari R.I.P.D. (Rest In Peace Department) dan tugasnya adalah menangkap para Deados (orang yang sudah mati tapi masih berkeliaran di dunia) untuk ditangkap dan dikirimkan ke alam baka. Agar bisa bertemu istri tercinta, Julia (Stephanie Szostak), Walker setuju dengan dengan tugas tersebut dan bekerjasama dengan Roy (Jeff Bridges) yang sudah senior di RIPD. Sialnya penampilan Walker dan Roy di dunia terlihat berbeda jauh dengan tubuh asli mereka, Walker terlihat seperti kakek cina yang sudah tua (James Hong) dan Roy terlihat seperti wanita cantik dan seksi (Marisa Miller). Tak ada yang mengenali siapa mereka sebenarnya sehingga Walker kesulitan menjelaskan ke pada Julia dan Hayes pun ternyata memiliki rencana busuk yang melibatkan Deados incaran Walker dan Roy. Film karya Robert Schwentke ini jelas akan mengingatkan Anda pada film Men In Black yang juga diangkat dari komik. Hanya saja eksekusinya bisa dibilang cukup parah (baca: buruk) bila dibandingkan MIB, meskipun tidak separah film Jonah Hex. Duo Reynolds dan Bridges tidak memiliki chemistry yang kuat sebagai partner, lelucon-lelucon yang dilontarkan mereka berdua terdengar garing di telinga saya. Ceritanya yang mudah ditebak dibuat datar tanpa ada pengembangan yang berarti, alhasil akan menimbulkan kantuk bagi beberapa penonton (termasuk saya). Untungnya spesial efek digarap dengan cukup serius jadi bisa memanjakan mata Anda untuk sesaat. Sangat disayangkan padahal materi yang cukup bagus dari komiknya bisa menjadi kisah yang bagus dilayar lebar bila digarap dengan lebih baik lagi. Menontonnya dalam format 3D juga hanya akan membuang uang Anda dengan percuma karena konversinya juga kurang maksimal.



It scores 5 outta 10!

Wednesday, September 4, 2013

Byzantium; a beautiful vampire tale



Masih ingatkah Anda dengan film Interview With a Vampire dengan bintang utama Tom Cruise yang beredar tahun 1994? Sutradara Neil Jordan yang membuatnya dan kini ia kembali dengan tema yang sama dengan Interview, hanya mungkin lebih feminis karena dilihat dari sudut pandang wanita bernama Clara dan Eleanor Webb. Pasangan ibu dan anak ini diperankan oleh Gemma Arterton dan Saoirse Ronan, mereka telah hidup selama 200 tahun dan berpindah-pindah dengan mengkonsumsi darah manusia. Disebuah desa di daerah Inggris mereka mendapat tempat tinggal di sebuah bekas hotel bernama Byzantium yang dimiliki Noel (Daniel Mays). Dengan keahlian Clara yang memiliki pengalaman sebagai pelacur selama 2 abad, ia mengubah tempat ini menjadi persinggahan bagi pelacur jalanan yang membutuhkan tempat "praktek". Sementara itu Elanor/Ella jatuh cinta dengan seorang pemuda setempat bernama Frank (Caleb Landry Jones) yang mengidap penyakit Leukimia dan Frank pun sebenarnya menaruh hati pada Ella, hanya saja Ella menghindar karena tidak ingin menyakiti Frank. Hingga akhirnya Ella membuka diri dan membiarkan Frank tahu bahwa dirinya adalah seorang vampire. Keterbukaan Ella terhadap Frank membuat Clara murka dan mengancam membunuh Frank karena siapapun manusia yang mengetahui identitas asli mereka harus dibunuh. Sialnya, Clara dan Ella juga sedang diburu sebuah perkumpulan vampire bernama Brotherhood, mereka tidak menginginkan adanya vampire wanita, jadi Clara dan Ella harus dibunuh dan Brotherhood sudah mengetahui keberadaan mereka berdua di desa tersebut. Setelah sekian lama disuguhi kisah vampire yang memiliki cinta segitiga dengan manusia dan werewolf, akhirnya hadir kisah vampire yang lebih membumi dengan penceritaan yang indah. Neil Jordan memang cukup piawai mengangkat tema ini karena ini sudah kali ketiga ia membuat film tentang vampire. Diangkat dari drama karya Moira Buffini yang juga menggarap skrip film ini, kisah Byzantium tampil dengan karakter-karakter dan visualisasi memikat. Gaya penceritaan back and forth tampil wajar dan lancar sehingga bisa kita rangkum di benak kita saat film berakhir, Anda dapat menarik kesimpulan tentang apa yang telah terjadi pada pasangan ibu dan anak ini serta apa yang melatarbelakangi mereka melakukan apa yang telah mereka lakukan. Semua pemain tampil dengan memikat, baik pemeran utama maupun pendamping dan para figurannya. Bila Anda mencari kisah drama yang agak "beda", film yang hanya di putar di jaringan Blitzmegaplex ini bisa jadi pilihan yang tepat.



It scores 8 outta 10!

Monday, September 2, 2013

The Mortal Instruments: City of Bones



Kisah novel young adult yang diangkat ke layar lebar memang sedang marak sejak kesuksesan Twilight Saga, kini hadir satu lagi yang tampil dilayar lebar dari seri The Mortal Instruments. Total bukunya ada 6 novel (klo gak salah, karena saya gak pengen baca) dan kisah City of Bones adalah yang pertama. Mengisahkan seorang gadis bernama Clary Fray (Lily Collins) yang tinggal di New York bersama ibunya, Jocelyn (Lena Headey). Clary mulai melihat penampakan simbol-simbol dan sebuah pembunuhan yang hanya bisa dilihat Clary semata. Ternyata eh ternyata, Clary adalah keturunan shadowhunter yang bertugas membasmi iblis/setan yang berkeliaran di New York. Shadowhunter ini bisa tak kasat mata kecuali oleh para iblis, witch/warlock, werewolf dan makhluk jejadian lainnya. Penculikan Jocelyn menjadi awal petualangan Clary dalam kehidupan baru yang terpaksa harus ia jalani demi menyelamatkan sang ibu. Dengan bantuan Jace Wayland (Jamie Campbell Bower) serta kakak beradik Alec (Kevin Zegers) dan Isabell Lightwood Jemima West) yang merupakan team shadowhunter berpengalaman, mereka mencari Jocelyn dan membongkar rahasia yang dimiliki musuh besar mereka bernama Valentine (Jonathan Rhys-Meyer). Film The Mortal Instruments: City of Bones ini disutradarai oleh Harald Zwart yang pernah menggarap remake The Karate Kid dengan cukup lumayan. Sayangnya tidak bisa dibilang sama untuk karyanya yang satu ini. City of Bones menawarkan pengulangan berupa cinta segitiga, penyihir, werewolf dan kekuatan supranatural serta lain-lainnya tanpa kualitas yang lebih baik, kecuali isu homoseksual yang muncul diantara karakternya, unik tapi menggantung. Kayaknya Anda harus baca novelnya dulu untuk bisa memahami karakter-karakter yang ada serta cerita yang ditawarkan, karena banyaknya subplot di film ini membuat ceritanya penuh sesak dalam durasi yang singkat. Buat saya yang agak lumayan hanya visualisasi dan soundtracknya, selebihnya biasa saja.



It scores 5 outta 10!

Percy Jackson: Sea of Monsters



Debut Percy Jackson yang pertama dilayar lebar tahun 2010 karya sutradara Chris Columbus bisa dibilang kurang menggembirakan dari sisi perolehan uang Box Office domestik di Amerika, tapi berhubung perolehan uang dari seluruh dunia lebih dari 200 juta dollar maka lahirlah sequelnya; Percy Jackson: Sea of Monsters meskipun waktu perilisannya sempat ditunda berkali-kali. Percy Jackson (Logan Lerman) adalah putra dari dewa laut Poseidon yang kini tinggal di camp Half-Blood, tempat dimana para demigod berkumpul. Adegan pembuka film ini akan menjelaskan tentang asal muasal dewa Zeus memberikan tameng perlindungan untuk camp Half-Blood agar tidak bisa dimasuki sembarangan orang. Tameng ini mulai hancur karena pohon ajaib yang menaunginya diracun oleh Luke Castellan (Jake Abel) dan untuk memulihkannya harus menggunakan kain ajaib bernama the golden fleece. Sialnya, kain ini dimiliki monster bermata satu (disebut Cyclops) di tengah laut segitiga bermuda yang angker. Demi kelangsungan hidup para demigod di camp Half-Blood maka Percy bersama sahabat-sahabatnya Grover (Brandon T. jackson) dan Annabeth (Alexandra Daddario) serta adik tirinya yang juga Cyclops bernama Taylor (Douglas Smith) berusaha mendapatkan kain ajaib itu dengan taruhan nyawa mereka. Berhasilkah mereka? Ya iyalah...! Bila Anda sudah baca seri novel Percy jackson pasti sudah tahu ceritanya. Bagi yang bukan penggemar Percy Jackson mungkin ada baiknya nonton film pertamanya karena ada beberapa plot holes yang akan Anda mengerti jika sudah membaca bukunya atau menyaksikan film The Lightning Thief. Saya pribadi belum pernah membaca bukunya sama sekali dan memang tidak tertarik untuk membacanya. Kalo filmnya? Yang pertama sih biasa saja, sequelnya ini lebih parah. Supporting Cast aktor-aktor besar dari film pertama seperti Pierce Brosnan dan Sean Bean tidak muncul lagi di film ini. Diperparah dengan karakterisasi yang dangkal dari semua karakter serta kisah cerita yang tidak fokus. Performance para pemainnya juga forgettable kecuali Nathan Fillion yang memerankan Hermes, sedikit lumayan. Film karya Thor Freudenthal ini jelas penurunan kualitas dari film sebelumnya kecuali dari sisi teknis spesial efek. Penonton remaja dan anak-anak mungkin akan terhibur, kalau saya jelas tertidur.....



It scores 5 outta 10!

The Call; more than 911 operator



Sutradara Brad Anderson pernah membuat thriller psikologis berjudul The Machinist yang sampai saat ini belum bisa saya lupakan (thanks to Christian Bale's perfect performance).  Kali ini ia membuat thriller berjudul The Call yang dibintangi Halle Berry dari sebuah profesi yang sering muncul di tivi maupun film. Jordan Turner (Halle Berry) adalah seorang operator telepon polisi 911 yang suatu ketika menerima panggilan dari seorang remaja yang rumahnya dimasuki penjahat. Jordan merasa bersalah karena tindakannya menghubungi si penelepon membuat sang remaja tewas terbunuh, padahal ia bermaksud untuk membantunya. 6 bulan kemudian Jordan sudah menjadi trainer untuk para operator 911 yang baru masuk dan sekali lagi ia menerima sebuah panggilan dari seorang remaja bernama Casey (Abigail Breslin) yang diculik dan disekap dalam bagasi sebuah mobil. Kini Jordan merasa bertanggung jawab menyelamatkan Casey dengan keahliannya sebagai operator 911 dan sambil berusaha mengatasi trauma yang pernah dialaminya. Menurut saya film ini adalah thriller yang efektif, tidak butuh waktu lama sejak adegan pembuka karena penonton langsung dibawa ke momen-momen menegangkan seputar penculikan Casey. Dengan aksi skala kecil dan cerita yang klise, sutradara Brad Anderson berhasil membangun sebuah ketegangan yang nonstop dan tidak bertele-tele. Para bintangnya juga bermain ciamik, meskipun Halle Berry hanya duduk  menerima telepon ia mampu memberikan ekspresi yang bagus, begitu juga dengan Abigail Breslin dan Michael Eklund yang memerankan penjahatnya. Dari semua kelebihan yang sudah saya sebutkan diatas, ada satu hal yang sangat mengganggu dan mengecewakan, endingnya. Padahal jika endingnya tidak dibuat revengeful mungkin akan terlihat lebih realistis, toh Jordan kan sebenarnya petugas kepolisian (meskipun bisa khilaf juga). Well... sebenarnya hal itu gak mengurangi kenikmatan menonton film ini yang memang thrilling karena bagian gak enaknya berada di menit menit terakhir.



It scores 7 outta 10!