Wednesday, September 25, 2013

INSIDIOUS Chapter 2; Horror in full circle



Bila Anda sudah pernah menyaksikan film Insidious yang pertama karya James Wan dan menyukainya, maka Anda wajib menyaksikan kelanjutan kisahnya di film Insidous Chapter 2. Kisah di Chapter 2 melanjutkan persis setelah film Chapter 1 berakhir, dimana Elise (Lin Shaye) tewas karena dicekik nenek bergaun hitam yang mengambil alih tubuh Josh Lambert (Patrick Wilson). Setelah selesai dengan urusan polisi, pasangan Josh dan Renai lambert (Rose Byrne) bersama tiga anaknya, Dalton, Foster dan Cali,  tinggal di rumah orangtua Josh, Lorraine Lambert (Barbara Hershey). Renai dan Lorraine akhirnya menyadari bahwa hidup mereka belum kembali normal karena penampakan dan suara-suara misterius kembali menghantui mereka. Lorraine meminta bantuan duo Specs (Leigh Wannel) dan Tucker ( Angus Sampson) yang sebelumnya pernah membantu Elise, berhubung Elise sudah wafat maka Specs dan Tucker meminta bantuan Carl (Steve Coulter) yang dulu pernah bekerjasama dengan Elise saat Josh masih muda dan mengalami gangguan supranatural di rumahnya. Penyelidikan mereka berempat mengarah pada kesimpulan bahwa Josh kini terperangkap di "dunia lain" dan nenek bergaun hitam yang dikenal sebagai The Dark Bride, yang mendiami tubuh Josh saat ini, akan membunuh Renai dan anak-anaknya. Untuk menyelamatkan keluarga Lambert harus ada yang menghancurkan memori The Dark Bride yang ternyata berhubungan dengan masa lalu keluarga Lambert.

Buat saya Chapter 2 tidak bisa dipisahkan dari film pertamanya. This movie is now in a complete full circle. Beberapa plot holes yang terdapat di film pertama akan terjawab di film ini. Siapa sih si nenek lampir bergaun hitam itu? Kenapa dia ngotot sekali dengan Josh? Hal itu akan terjawab di film ini, bahkan lebih detail karena menyangkut penyakit mental yang dialaminya di masa lalu. Pendalaman karakternya memang kurang tergali dengan optimal, mungkin karena takut berubah jadi film drama he..he..he... Penampilan para pemainnya bisa dibilang biasa saja, hanya Rose Byrne saja yang agak menonjol. Di film pertama, kehadiran duo ghostbuster Specs dan Tucker sangat menggangu saya, tapi di film ini mereka bisa memberikan porsi humor yang pas dan sesuai dengan jalan cerita (bahkan mungkin bisa jadi icon baru). Kepiawaian James Wan dalam menggarap film horor terlihat jelas di Chapter 2 meskipun ada beberapa momen seram yang agak sedikit mengingatkan kita pada The Conjuring, buat saya sih gak masalah karena film ini memiliki ciri khas sendiri. Salah satu keunggulan Wan menggarap film horor adalah ia menggambarkan hal-hal yang sebagian besar orang pernah mengalaminya, seperti suara telapak kaki, bunyi ketukan dan pintu berderit yang dikehidupan nyata bisa membuat kita memikirkan hal-hal yang nggak-nggak alias berbau supranatural, bukan begitu bukan?  Oiya.. salah satu ciri khas Insidious adalah si "setan merah" yang sayangnya gak muncul di film ini. Mudah-mudahan kalimat terakhir di film ini yang diucapkan Elise "Oh My God.!"  jadi indikasi munculnya si setan merah di Chapter 3.



It scores 6 outta 10!

Tuesday, September 24, 2013

YOU'RE NEXT; Kinda Smart Slasher



Paul Davison (Rob Moran) dan istrinya Aubrey (Barbara Crampton) merayakan ulang tahun pernikahan di rumah peniun mereka disebuah desa. Pasangan ini mengundang anak-anak mereka yang sudah dewasa untuk datang bersama kekasih mereka masing-masing. Crispian (AJ Bowen) datang bersama Erin (Sharni Vinson), Drake (Joe Swanberg) bersama Kelly (Margaret Laney), Aimee (Amy Seimetz) bersama Tariq (Ti West) dan Felix (Nicholas Tucci) bersama Zee (Wendy Glenn). Crispian, Drake, Aimee dan Felix adalah kakak beradik Davison, dan layaknya kakak beradik pasti ada pertengkaran kecil yang tidak bisa dihindari. Dari pertengkaran kecil dimeja makan muncul teror yang tidak diinginkan. Sekelompok geng pembunuh bertopeng hewan mencoba menghabisi nyawa keluarga Davison satu persatu dengan panah, golok dan kapak. Mereka harus berfikir keras untuk bisa bertahan hidup dan mencari bantuan. Erin yang kebetulan dibesarkan dengan cara yang cukup ekstrim oleh orang tuanya, menjadi orang yang bisa memimpin dan juga melawan para pembunuh. Sialnya, para pembunuh ini mendapat bantuan dari orang dalam, ternyata ada diantara mereka yang menjadi kaki tangan pembunuh. Siapa? Ya tonton deh filmnya!

Ada yang unik dari film garapan sutradara Adam Wingard ini, untuk sebuah film bergenre horror slasher, film You're Next bisa dibilang cukup pintar. Selain beberapa elemen klise yang selalu muncul dalam film horror / thriller, penulis cerita Simon Barrett memberikan elemen surprise yang cukup menarik pada endingnya serta nuansa black comedy tentang sibling rivalry, dan saat tahu endingnya saya merasa kisah film ini menjadi sangat logis. Beda dengan film slasher lain  yang melakukan pembunuhan hanya karena dorongan naluri atau kelainan jiwa, film ini memiliki motif pembunuhan yang bisa terjadi pada siapa saja, yaitu UANG! Selain itu, karakter Erin juga memberikan solusi yang pintar atas beberapa problem klise yang kerap muncul dalam film sejenis (yang menyebabkan si tokoh mati terbunuh). Overall... it's a bloody gore entertaining for the fans of horror slasher genre. Oiya, just in case you're wondering, lagu yang diputar berulang-ulang di film ini adalah lagu milik Dwight Twilley yang berjudul "Looking for the magic".



It scores 7 outta 10!

Wednesday, September 18, 2013

2 Guns; funny buddy cop



Bobby (Denzel Washington) dan Stigman (Mark Wahlberg) sebenarnya adalah anggota DEA dan NAVY yang sedang menyamar dan mereka berdua belum tahu identitas asli masing-masing. Target mereka adalah seorang kartel narkotik Meksiko bernama Papi Greco (James Edward Olmos), Bobby mengincar narkobanya sedangkan Stig mengincar uangnya. Sialnya, perampokan bank yang mereka lakukan ternyata malah membuat mereka terjerumus dalam kesulitan, DEA dan NAVY menyangkal keberadaan Bobby dan Stig, dan lebih sialnya lagi ternyata bank yang mereka rampok merupakan tempat penyimpanan uang haram milik CIA. Earl (Bill Paxton) dari CIA yang merasa kecolongan, memburu Bobby dan Stig untuk mendapatkan kembali uang $43.125.000 miliknya, dengan cara apapun. Alhasil Bobby dan Stig bukan cuma diburu CIA tapi juga DEA, NAVY dan drug cartel pimpinan Papi Greco demi mendapatkan uangnya serta memastikan mereka berdua mati terbunuh. Sebenarnya sudah banyak film komedi aksi buddy cop, namun yang membedakannya dengan film besutan Baltasar Kormakur ini adalah nama besar Denzel Washington. Kapan terakhir Anda melihat Denzel main film komedi? Menyaksikan Denzel berpasangan dengan Mark Wahlberg di film ini sangat menyenangkan dan menghibur. Wahlberg lebih menonjol dengan gayanya yang urakan dan nyerocos tanpa henti, Washington bisa mengimbangi dengan gayanya yang cool dan kalem. Kombinasi mereka berdua saat berbagi layar menghasilkan dialog-dialog yang nyeleneh dan enak dinikmati karena menurut saya chemistry mereka berdua cukup pas. Jalan ceritanya sendiri juga ringan dan gak perlu banyak mikir untuk bisa memahaminya. Pendalaman karakternya nyaris gak ada untuk tokoh Bobby dan Stig yang aslinya diambil dari novel grafis karya Steven Grant. Beda dengan film buddy cop lainnya yang menyempatkan diri untuk menggali lebih dalam tokoh utamanya, Kormakur lebih fokus pada adegan aksi dan apa yang dilakukan Bobby dan Stig menyelesaikan problem mereka secepat mungkin dan tidak ingin bertele-tele dengan latar belakang semua tokohnya. Isu sosial tentang korupsi di beberapa lembaga negara amerika yang diangkat film ini juga kurang detail, tapi cukup untuk sekedar menjadi alasan kenapa Bobby dan Stig melakukan apa yang harus mereka lakukan. Bila Anda pecinta genre action comedy maka film ini akan jadi hiburan yang seru untuk disaksikan.



It scores 7 outta 10!

Monday, September 16, 2013

The Frozen Ground; a thrilling cliche



Jack Halcombe (Nicolas Cage) adalah seorang detektif polisi di Alaska yang sedang menyelidiki kasus ditemukannya mayat wanita ditengah hutan. Berdasarkan hasil investigasinya ia menemukan sebuah pola pembunuhan berantai dan ia mencurigai Robert Hansen (John Cusack) yang tinggal di sebuah kota kecil bernama Anchorage. Bagi penduduk Anchorage, Hansen adalah warga yang baik, pemilik toko kue dan tidak memiliki masalah dengan lingkungan sekitar, istri dan anaknya pun termasuk taat beribadah. Ternyata Hansen adalah seorang pemburu, dengan sebuah pesawat kecil yang dimilikinya ia sering membawa wanita PSK (Pekerja Seks Komoersial) atau penari eksotis dengan pesawatnya ke sebuah kabin di tengah hutan Alaska untuk diperkosa lalu dilepaskan di tengah hutan dan kemudian dibunuh menggunakan senapan layaknya pemburu membunuh hewan incarannya yang sedang berlari menyelamatkan diri. Hingga suatu saat mangsa yang diculik Hansen lepas, seorang wanita berusia 17 tahun bernama Cindy (Vanessa Hudgens). Polisi setempat tidak mempercayai Cindy karena ia seorang pelacur, bagi mereka pelacur itu ya kerjaannya memang untuk diperkosa. Halcombe yang mendengar pengaduan Cindy mencoba membantu demi tertangkapnya Hansen, bila Cindy memberikan kesaksian maka Hansen bisa dijebloskan kepenjara dengan tuduhan penculikan. Namun ternyata Hansen tidak tinggal diam, ia membayar orang untuk menangkap Cindy dan membunuhnya, kini nyawa Cindy terancam. Bagi Anda penggemar kisah seri kriminal seperti Law & Order, CSI atau Criminal Minds di televisi, film The Frozen Ground ini terlihat klise dan datar, karena beberapa episode dari serial tersebut ada yang jauh lebih menarik dan saya adalah penggemar serial kriminal yang saya sebutkan tadi. Yang menarik perhatian saya dari film yang ditulis dan disutradarai oleh Scott Walker ini adalah, pertama kisahnya merupakah kisah nyata yang terjadi di kota Anchorage, Alaska antara tahun 1973 hingga 1983. Si pelaku Robert Hansen dijatuhi hukuman penjara selama 461 tahun dan tidak bisa ditebus dengan uang. Jumlah korban mencapai 21 orang, 17 mayatnya sudah ditemukan tapi beberapa tidak diketahui indentitasnya, hingga hari ini. Kedua, semua pemain tampil dengan apik, bahkan Nicolas Cage yang beberapa film terakhirnya bikin mata saya sakit karena aktingnya yang asal-asalan dan merusak jalan cerita. Tapi di film ini ia tampil jauh lebih baik dalam membawakan karakter Halcombe yang dalam kehidupan nyata bernama detektif Glenn Flothe. Performance John Cusack dan Vanessa Hudgens juga patut diacungi jempol. Gambar-gambar daerah hutan dan pegunungan Alaska dari udara yang diambil Patrick Murguia juga jadi hiburan mata tersendiri. Jadi meskipun ceritanya klise namun tetap bisa dinikmati karena memiliki kelebihan lain yang cukup enak dinikmati.



It scores 7 outta 10!

Grown Ups 2; worst movie of the year



Adam Sandler, Kevin James, David Spade dan Chris Rock adalah jebolan SNL (Saturday Night Live), kecuali Kevin James, yang merupakan sahabat karib diluar kamera yang juga sering numpang lewat di film masing2. Film Grown Ups pertama yang rilis tahun 2010 bisa dibilang memberikan masukan uang yang lumayan buat Adam Sandler dibandingkan karya-karya sesudahnya seperti film Jack & Jill. Empat sahabat ini memutuskan kembali ke layar lebar melanjutkan petualangan mereka di film Grown Ups 2 arahan Dennis Dugan. Ceritanya.... well.... saya agak kesulitan menceritakan jalan ceritanya dari sudut pandang saya, karena saya benar-benar gak ngerti apa yang mau disampaikan film ini. Plot ceritanya bisa Anda Google, yang perlu Anda ketahui adalah film ini jelas lebih buruk dari film pertama. Banyaknya karakter yang tampil membuat film ini penuh sesak dan menjengkelkan. Humornya ada beberapa yang lucu tapi kebanyakan sangat garing dan tetap vulgar seperti biasa yang dilakukan Sandler dan Spade. Bila Anda menyukai film pertamanya kemungkinan besar akan menyukai film ini karena semuanya hampir sama persis, bahkan hingga ke adegan kolam renang yang berubah warnanya menjadi biru saat ada yang pipis didalam airnya, hanya saja kali ini yang melakukannya adalah Shaquile O'Neill...  *tepok jidat*



It scores 3 outta 10!

Disney's Planes; worst than Cars



Sebuah pesawat yang takut terbang tinggi tapi ingin ikut kejuaraan keliling dunia? Kenapa tidak! No dream is too big if you live in the world of Disney. Kesuksesan film Cars memberi ide untuk membuat konsep yang sama dengan bentuk yang beda, dari mobil ke pesawat. Sebuah pesawat penyemprot hama bernama Dusty Crophopper (Dane Cook) bermimpi untuk bisa ikut sebuah kejuaraan bergengsi keliling dunia, hanya saja Dusty memiliki satu masalah, ia takut ketinggian. Dengan bantuan Dottie (Teri Hatcher) dan Chug (Brad Garret), Dusty mencoba peruntungannya mengikuti babak kualifikasi dan mujurnya ia lolos karena ada satu peserta yang didiskualifikasi. Kejuaraan ini bukan hal yang mudah, ia membutuhkan bantuan Skipper (Stacy Keach) yang sudah malang melintang keliling dunia saat masih bertugas di militer, pengalam Skipper dapat membantu Dusty dalam menghadapi berbagai rintangan saat ia keliling dunia, tapi ada satu rintangan yang agak sulit dihadapi, kecurangan salah satu peserta bernama Ripslinger (Roger Craig Smith) pesawat balap yang tidak ingin dikalahkan oleh pesawat penyemprot hama dari kampung. Dibawah arahan sutradara Klay Hall film ini jelas akan mengingatkan Anda pada film Cars, bedanya kualitas cerita film Planes jauh dibawah Cars yang merupakan kerjasama Disney dengan Pixar. Untuk orang dewasa kisah film ini akan sangat membosankan meskipun teknis visualnya jauh dari mengecewakan. Hanya anak-anak dibawah 10 tahun saja yang bisa menikmatinya dengan "seru". Awalnya film ini dibuat untuk langsung dipasarkan dalam bentuk home video namun Disney memutuskan untuk merilisnya dalam format layar lebar, malah kalo sukses akan disiapkan pula sequelnya.



It scores 5 outta 10!

Sunday, September 15, 2013

Kick-Ass 2; Hit-Girl movie?



Dave Lizewski (Aaron Johnson) adalah pahlawan bertopeng bernama Kick-Ass yang suka membantu warga bila sedang dalam kesulitan. Kick-Ass bukan superhero, ia hanya manusia biasa yang ingin membuat perubahan. Setelah cukup lama bermalas-malasan dengan aksi topengnya, Dave memutuskan untuk kembali ke jalanan menumpas penjahat. Untuk itu ia membutuhkan teman dan mengajak Mindy (Chloe Grace Moretz) alias Hit-Girl untuk mendampinginya. Untuk urusan berkelahi, Mindy jelas jauuuuhh lebih terampil ketimbang Dave dan Mindy setuju untuk mengajarkan Dave beberapa ilmu beladiri (dengan cara yang menyakitkan). Sementara itu Chris D'Amico (Christopher Mintz-Plasse) yang dulu dikenal dengan nama Red Mist (lihat lagi film Kick-Ass yang pertama), masih menaruh dendam pada Kick-Ass dan berencana untuk membunuhnya. Dengan kostum baru yang lebih culun (dan lebih gay) dari Red Mist ia menamakan diri The Motherf*cker dan ia juga merekrut beberapa penjahat dan menami mereka dengan nama yang aneh-aneh seperti Mother Russi dan Genghis Carnage untuk mendampinginya membunuh Kick-Ass. Saat Mindy memutuskan untuk berhenti menjadi Hit Girl dan sibuk dengan kelompok barunya di sekolah, Dave memutuskan untuk bergabung dengan kelompok pembela kebenaran pimpinan Colonel Star & Stripes (Jim Carrey) yang memiliki nama Justice Forever. Kelompok ini harus menghadapi tantangan yang berat ketika salah satu dari mereka tewas dibunuh oleh The Motherf*cker. Ketika korban bertambah banyak, kick-ass dan Hit Girl pun turun tangan. Di tangan sutradara Jeff Wadlow film ini tetap menghibur meskipun tidak secerdas film pertamanya. Porsi komedi dan aksinya terbilang cukup pas meskipun (sekali lagi) tidak semenarik film pertama. Bila Anda suka film pertamanya kemungkinan besar akan menyukai film ini karena sudah mengetahui karakteristik masing-masing tokoh, Anda tinggal menikmati sajian aksi dan komedi yang menghibur. Penampilan Jim Carrey yang singkat sangat mencuri perhatian begitu juga dengan Moretz yang sangat mendominasi layar. Beberapa orang menyebut film ini sebagai Hit Girl Movie, dan saya setuju.



It scores 6 outta 10!